Mengenal Psikologi Pricing, Trik Menentukan Harga!

Psikologi Pricing atau Psikologi Harga adalah strategi menentukan harga produk atau jasa agar terlihat lebih rendah dan menarik berdasarkan aspek psikologi. Psikologi Pricing dipercaya memiliki dampak yang lebih besar agar konsumen membeli atau bahkan meningkatkan jumlah pembelian.

Sebagai contoh yang sering kita temui, penetapan harga Rp 98.000 tentu akan terdengar lebih murah secara psikoligi dibanding Rp 100.000 padahal selisih dari kedua harga ini hanya Rp 2.000. Secara psikologi konsumen akan menganggap harga barang tersebut kurang dari Rp100.000 yang merupakan tingkatan harga psikologi.

Psikologi Pricing umumnya sering kita jumpai di e-commerce kesayangan kita semua entah di hijau, orange atau merah. Meski sadar atau tidak, banyak penjual di ecommerce yang merapkan trik ini. Selain itu juga di offline store, mall, supermarket.
Namun taukah kamu jika beberapa jenis strategi yang berbeda-beda dalam penerapannya? Berikut 4 teknik dalam penerapan Psychological Pricing;

Artificial Time Constraints

Promo Flash Sale Tokopedia

Kamu tentu sudah familiar dengan istilah flash sale? Salah satunya Tokopedia yang rutin memberikan diskon untuk produk tertentu di jam tertentu. Bahkan diskon yang diberikan hingga 90% dan biasanya hanya berlangsung dalam beberapa jam. Wah sekilas menarik! Saya sendiri kadang mantengin produk yang lagi flash sale bahkan beberapa kali membelinya.

Yap, dari contoh diatas sepertinya kamu tentu sudah paham apa itu Artificial Time Constraints? Ini adalah teknik Psikologi Pricing dengan memberikan batasan waktu pada harga yang spesial.

Tanda-tanda Artificial Time Constraints dikenali dari adanya pembatasan “waktu”. Pembatasan ini bertindak sebagai pendorong bagi konsumen untuk sesegara mungkin berbelanja. Teknik ini akan membuat konsumen memiliki waktu yang lebih sedikit untuk memikirkan pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Selain itu jika calon pelanggan percaya bahwa keuntungan “diskon” ini hanya bersifat sementara, kemungkinan besar mereka akan melakukan pembelian saat itu juga menjadi lebih tinggi. Konsumen takut kehilangan kesempatan yang menguntungkan, sehingga mereka melakukan pembelian untuk menghindari potensi perasaan menyesal atau kehilangan kesempatan. Selain itu, mereka akan merasa tertekan untuk membeli setelah melihat semua sesama pembeli memanfaatkan “promo” ini.

Charm Pricing

Dollars Only Offer Badge Sticker Design in Flat Style. Vector illustration

Strategi ini melibatkan penggunaan harga yang berakhiran angka 9. Hal ini cukup umum digunakan, biasanya penyedia layanan atau produk menetapkan harga dengan mengurangi satu digit awal. Contohnya misalnya harga dasarnya Rp 1.000.000, kemudian penjual menetapkan harga sebesar Rp 999.000. Nah hal ini telihat lebih murah dimata, padahal hanya beda 1000. Tapi bagamana pun, kesan pertama yang dilihatnya calon konsumen adalah adalah angka 2 yang lebih murah dari angka 3.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh University of Chicago dan MIT , beberapa pakaian wanita digunakan untuk menguji pengaruh trik ini. Dalam eksperimen ini harga yang ditetapkan sebesar $34, $39 dan $44. Namun, hasilnya cukup mencengangkan para peneliti, barang-barang yang paling banyak di beli adalah $39 meskipun ada harga yang lebih murah dan lebih mahal daripada pilihan itu.

Innumeration

“Buy 1 Get 1”
“Beli 2, Diskon 50%”

Menurut kamu, promosi mana yang lebih baik? “Beli satu gratis satu” atau “Diskon 50% untuk dua item?” Menurut saya pribadi, Buy 1 Get 1 terdengar lebih menarik karena tidak ada paksaan kamu untuk membeli 2 produk, berbeda dengan yang kedua seolah terdapat paksaan untuk membeli 2 baru kemudian mendapatkan diskon.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of Minnesota, kebanyakan orang akan lebih memilih opsi pertama, meskipun kedua opsi itu sebenarnya sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah Innumeracy, dimana konsumen tidak dapat mengenali atau memahami prinsip dasar matematika yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Price Appearance

Sale vector created by freepik – freepik.com

Selain 3 jenis Psikologi Pricing yang sudah saya sebutkan tadi, desain visual atau bagaimana kamu menampilkan harga juga dapat memiliki pengaruh yang luar biasa pada bagaimana pelanggan memandang nilai produk. Hal ini termasuk dalam aspek visual meliputi design, warna hingga penggunaan ukuran font.Sebagai contoh, jika kamu memiliki highlight Diskin 70% maka pastikan audience dapat melihat highlight point tersebut dalam sekilas, tidak terlalu kecil tidak pula terlalu besar.

Ada beberapa contoh lain biasanya dalam penambahan “sen” di akhiran harga cenderung membuat harga terlihat lebih kompleks dan sudah di mengerti, harga dengan lebih banyak suku kata tampak lebih mahal karena konsumen menkonversikan harga di kepala mereka dan membutuhkan waktu lebih lama untuk melafalkan angka yang panjang. Sedikit trik, kamu bisa mencoba menghilangkan tanda “Rp” dari harga dan jika kamu menetapkan harga pada bilangan bulat, lupakan juga “.00”.

Kesimpulan

Disclaimer! Keputusan untuk menggunakan strategi ini ada ditanganmu. Beberapa orang mungkin menganggap teknik ini sebagai upaya untuk mengambil keuntungan dari kelemahan matemaris dan psikologis dari konsumen, sementara yang lain mungkin menganggapnya sebagai bagian penting dari kegiatan bisnis. Teknik ini juga belum tentu akan cocok diterapkan pada bisnismu dan menghasilkan hasil yang lebih baik karena ada banyak faktor lain yang mempengaruhi angka penjualan. Artikel ini hanya menjadi referensi! Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *